FAQ

 

1.    Pertanyaan :

Bagaimana PNS yang telah mempunyai jabatan fungsional lain seperti Teknis Litkayasa akan beralih ke Peneliti, apa syaratnya dan apakah niiai angka kredit fungsional tersebut diakui langsung di peneliti?

Jawab:

Pengangkatan pertama kali dalam jabatan fungsional peneliti (JFP) ada 3 yaitu : a) dari kandidat peneliti (murni formasi peneilti) ; b) dari jabatan lain (perpindahan alih jabatan fungsional) dan c) dari jabatan serumpun (Dosen dan Perekayasa). Pejabat fungsional Teknisi Litkayasa beralih ke fungsional peneliti masuk dalam kriteria perpindahan antar jabatan, sehingga persyaratannya untuk diangkat menjadi Peneliti adalah : Pendidikan minimal S2, lulus diktat JFP tingkat I, Usia maksimal 45 tahun, bekerja di unit lltbang. Angka kredit yang diperoleh fungsional Teknisi Litkayasa tidak dapat dikonversi langsung ke angka kredit Peneliti. Seluruh KTI dan kegiatan lainnya akan dinilai kembali berdasarkan peraturan penilaian angka kredit peneliti.

 

2.    Pertanyaan:

Pejabat Peneliti setelah menduduki jabatan fungsional selama 5 tahun tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang dipersyaratkan, dibebaskan sementara. Apakah 5 tahun dihitung dari jabatan atau pangkat ? mohon penjelasan.

Jawab :

Pembebasan sementara karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang dipersyaratkan umumnya 5 tahun dihitung dari TMT jabatan, dikecualikan peneliti yang naik pangkat karena angka kredit dan diproses kenaikan pangkatnya tidak lebih dari 1 tahun maka 5 tahun dihitung dari pangkat. Apabila pengurusan pangkatnya Iebih dari satu tahun, maka BS dihitung dan TMT jabatan.

 

3.    Pertanyaan:

KTI yang dinilai untuk pertama kali diangkat sebagal peneliti tidak mengenal kadaluarsa (dinilail semua). Bagaimana untuk yang sudah menduduki jabatan fungsional penelitl karena tertulis TMT minus 2 tahun (-2) mohon penjelasannya.

Jawab:

Apabila sudah sebagai Peneliti Pertama,perhitungan masa kadaluarsa KTI minus 2 tahun (- 2) yaitu contoh ; Dr. X diangkat sebagai penelitii Pertama gol. III/b, TMT 1-03-2012. Tahun 2014 Dr.X mengusulkan untuk kenaikan ke jenjang Peneliti Muda, maka KTI yang dapat dinilai mulai tahun 2010 (2012-2) hingga tahun 2014. Alasan mundur 2 tahun yaitu untuk mengantisipasi KTI yang belum terbit di Jurnal atau buku pada saat pengusulan angka kredit.

4.    Pertanyaan:

Penilaian angka kredit untuk jenjang Peneliti Madya/Utama apakah langsung dinilai LIPI, mengapa tidak dinilai oleh TP2I masing-masing ?

Jawab :

Tim Penilai Peneliti ada 3 level : Tim Penilai Peneliti Unit (TP2U), Tim Penilai Peneliti Instansii (TP2I) dan Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3). Tim Penilai Peneliti mempunyai tugas yang sama diantaranya melakukan penilaian prestasi kerja peneliti. Hanya TP2I yang diberikan kewenangan oleh LIPI dapat menilai dan menetapkan angka kredit untuk Peneliti Pertama dan Peneliti Muda . Persyaratanuntuk mendapat kewenangan yaitu memenuhi persyaratan tertentu antara lain mempunyai :

paling sedikit 1 orang Profesor Riset, 2 Peneliti Utama, 3 Peneliti Madya, Jumlah peneliti yang dimiliki Kementerian/Lembaga/Daerah paling sedikit 50 peneliti dan selisih perbedaan penilaian antara TP2I dengan TP3 di bawah 10 %. Nota PAK tersebut dibuat oleh instansi yang diberi kewenangan, tetapi untuk Peneliti Madya dan Utama seluruh unsur kegiatan tetap dinilai terlebih dahulu oleh TP2I, hal tersebut diantaranya untuk pertanggungjawaban pimpinan instansi dalam subtansi maupun original dari kegiatan tsb.

 

5.    Pertanyaan:

Apakah periode rapat penilaian angka kredit TP2I sama dengan TP3 ?

Jawab:

Periode rapat penilaian tergantung dari instansi masing-masing, biasanya disesuaikan dengan anggarannya. Untuk TP3, rapat penilaian dan penetapan angka kredit dilakukan 12 kali dalam 1 tahun, minggu ke 4 setiap hari Selasa. Disarankan, jadual di TP2I sebelum minggu ke 4. Peneliti harus mengetahui jadual rapat penilaian di masing-masing instansi, hal tersebut menjaga TMT peneliti yang berakhir atau Batas Usia Pensiun (BUP).

 

6.    Pertanyaan:

Apakah SK sebagai Tim Peneliti kegiatan tertentu dapat dinilai ?

Jawab:

SK Tim Peneliti yang dapat dinilai adalah apabila Peneliti tersebut sebagai Koordinator Peneliti atau Ketua Penelitian yang terlibat langsung dalam penelitian serta mencantumkan nama anggotanya dan dinilai satu SK pertahun

7.    Pertanyaan:

Apakah makalah di jurnal yang diikutkan untuk persyaratan akreditasi dianggapterakreditasi atau dapat dinilai 25 angka kredit ?

Jawab:

Mulai tahun 2007 makalah di jurnal yang sebagai persyaratan untuk diakreditasi tidak dinilai sebagai jurnal terakreditasi, kecuali untuk akreditasi pertama kali yaitu tahun 2006 makalah di jurnal sebagai persyaratan dapat dinilai sebagai makalah jurnal terakreditasi, tetapi penilaiannya memperhatikan subtansinya (tidak otomatis nilai 25 )

8.    Pertanyaan :

Mengapa banyak KTI di jurnal terakreditasi tidak dinilai 25 angka kredit ?

Jawab:

Dalam penilaian angka kredit Peneliti yang pertama di cek oleh TP3 adalah status jurnalnyayaitu terakreditasi atau tidak terakreditasi, yang kedua adalah dicermati substansinya. Perbedaan penilaian atau penurunan angka kredit disebabkan jurnal tersebut tidakselektif dalam menerima makalah sehingga mutu /kualitas tidak diperhatikan, khususnya pembahasannya dan analisisnya kurang mendalam atau tidak sesuai dengan kaidah ilmiah. Penurunan angka berdasarkan pindah unsur kegiatan yang paling mendekati/sesuai misalnya makalah di Jurnal terakreditasi pindah ke unsur prosiding atau diseminasi, karena kurang dalam pembahasannya.

 

 

 

1.    Pertanyaan:

Dalam pemenuhan kompetensi peneliti apakah seluruh unsur kegiatan harus dipenuhi ? contoh : Peneliti Pertama (KTI jurnal tidak terakreditasi, KTI belum terbit, laporan teknis).

Jawab:

Pemenuhan kompetensi yang dimaksud adalah hasil kerja minimal. Apabila Penelitii tsb. telah memiliki KTI yang nilainya lebih tinggi dari yang dipersyaratkan,misalnya banyak menulis di jurnal tidak terakreditasi hingga memenuhi nilai minimal atau bahkan menulis di jurnal terakreditasi, maka persyaratan minimal dianggap telah terpenuhi,

 

2.    Pertanyaan:

Bolehkah pemenuhan kompetensi dalam penulisan KTI ditulis beberapa orang ?

Jawab :

KTI untuk pemenuhan kompetensi dapat ditulis lebih dari satu orang, tetapi untuk jenjang Peneliti Madya dan Peneliti Utama harus sebagai penulis pertama. Dalam pemenuhan standar kompetensi, peneliti tersebut harus sebagai penulis tunggal atau pertama.

 

3.    Pertanyaan:

Apakah ditentukan jumlah KTI dalam pemenuhan kompetensi pada setiap jenjang ? Misalnya di jenjang Peneliti Madya, wajib membuat bagian buku berapa banyak ?

 

Jawab:

Dalam Surat Edaran Kepala LIPI no.5782/K/HK/XII/2012 tentang penjelasan atas Hasil Kerja Minimal tidak disebutkan jumlah KTI, tetapi dalam jenjang peneliti tersebut minimal menghasilkan hasil kerja kegiatan dimaksud.

 

4.    Pertanyaan:

Peneliti Utama (maintenance) atau Profesor Riset yang sudah beberapa kali pemeliharaan,(maintenance) apakah wajib membuat buku ?

Jawab:

Untuk Peneliti yang maintenance dibawah 2012 tidak diwajibkan memenuhi kompetensinya yaitu membuat buku, tetapi yang di jenjang Peneliti Utama Gol. IV/e terhitung mulai 1-01-2012, wajib membuat buku pada saat maintenance pertama hingga maintenance ketiga atau akan mengajukan pengukuhan Profesor Riset.

 

5.    Pertanyaan:

Untuk pemenuhan kompetensi;membina kader bagi Peneliti Madya, apakah diperbolehkan yang tidak sama bidang kepakarannya ?

Jawab:

Peneliti Madya wajib membina peneliti di bawahnya atau setara. Untuk pemenuhan kompetensi tersebut harus sama dengan bidang kepakaran Peneliti Madya tersbut, bila tidak ada di instansinya, dapat peneliti di instansi lain atau perguruan tinggi

 

6.    Pertanyaan:

Bila sudah pernah menulis buku di saat Peneliti Madya, apakah harus menulis buku lagi ?

Jawab:

Menulis buku adalah kompetensi Peneliti Utama yang harus dipenuhi. Apabila saat jenjang Peneliti Madya sudah pernah menulis buku, dianggap sudah memenuhi namun saat menduduki Peneliti Utama tetap menulis kembali buku sebagai penulis pertama atau tunggal.

 

7.    Pertanyaan:

Buku yang bagaimana yang disebut Buku Nasional ?

 

Jawab:

Buku Nasional adalah buku yang diterbitkan oleh lembaga penerbit atau Publishing house yang terdaftar sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang mempunyai dewan penyunting atau editor scientific (ilmah) bukan komersil, serta diterbitkan paling sedikit 300 eksemplar.